DIARPUS – Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo, Ridwan Hemeto, menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi S2 dan S3 Linguistik Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi dengan tema “Dinamika Bahasa Daerah dan Literasi Lokal dalam Pembentukan Identitas Budaya Masyarakat Modern” yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (22/05/2026).
Dalam webinar nasional tersebut, Ridwan Hemeto membawakan materi berjudul “Tantangan Bahasa Daerah dan Literasi Lokal dalam Menjaga Identitas Budaya Gorontalo di Era Digital.”
Kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, sebagai salah satu pembicara nasional.
Dalam pemaparannya, Ridwan Hemeto menegaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari infrastruktur peradaban yang menyimpan dimensi historis, filosofis, sosial, pendidikan, hingga politik kebudayaan.
“Bahasa daerah memiliki fungsi strategis dalam menjaga kesinambungan memori kolektif, pewarisan nilai adat, serta penguatan karakter masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, Bahasa Gorontalo merepresentasikan identitas historis Hulonthalo yang mengandung nilai adat, religiusitas, serta sistem pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Ia menjelaskan bahwa pelestarian Bahasa Gorontalo bukan hanya menjadi tanggung jawab masyarakat lokal, tetapi juga merupakan bagian dari agenda kebudayaan nasional dalam menjaga pluralitas budaya bangsa Indonesia.
Ridwan Hemeto turut mengangkat filosofi Gorontalo “Adati hula-hula’a to syara’, syara’ hula-hula’a to Kitabi” yang bermakna adat bersendikan syariat dan syariat bersendikan Al-Qur’an. Menurutnya, bahasa menjadi medium utama dalam menjaga integrasi antara adat dan agama di Gorontalo.
Dalam pemaparannya, ia juga mengutip pandangan ahli bahasa Gorontalo Mansoer Pateda mengenai kondisi bahasa daerah di Gorontalo, seperti Bahasa Gorontalo, Bahasa Bulango, Bahasa Suwawa, dan Bahasa Atinggola yang mengalami ancaman penurunan jumlah penutur.
Ridwan Hemeto menyebutkan bahwa tantangan pelestarian bahasa daerah saat ini semakin kompleks, mulai dari faktor globalisasi digital, dominasi bahasa asing dan bahasa Indonesia, berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam keluarga, minimnya literasi lokal, hingga lemahnya kebijakan afirmatif terhadap pelestarian bahasa daerah.
Selain itu, perkembangan gaya hidup modern dan dominasi media digital turut menyebabkan penyusutan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Hemeto juga menekankan pentingnya peran perpustakaan dalam pelestarian bahasa daerah melalui pengumpulan dan dokumentasi budaya lokal, penyediaan akses informasi budaya daerah, penyelenggaraan kegiatan literasi budaya, hingga kolaborasi dengan komunitas adat dan budaya.
Menurutnya, pendidikan juga memiliki peran strategis dalam revitalisasi bahasa daerah melalui pengajaran muatan lokal, pengembangan bahan ajar berbasis budaya Gorontalo, pelatihan guru bahasa daerah, lomba sastra dan literasi daerah, hingga digitalisasi bahan pembelajaran.
“Bahasa Gorontalo menyimpan nilai filosofis, norma sosial, etika komunikasi, dan memori kolektif masyarakat. Ancaman terhadap bahasa daerah bukan hanya persoalan linguistik, tetapi juga persoalan peradaban,” tegasnya.
Ia juga mendorong adanya gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, akademisi, tokoh adat, media, dan masyarakat dalam upaya revitalisasi bahasa daerah, termasuk menghadirkan bahasa daerah di berbagai platform digital modern.
Kegiatan ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur yang mendorong penguatan identitas budaya daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pelestarian nilai-nilai lokal sebagai bagian dari pembangunan daerah berbasis budaya dan literasi.
Melalui webinar nasional ini diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian bahasa daerah dan literasi lokal semakin meningkat, sehingga warisan budaya Gorontalo tetap terjaga di tengah perkembangan era digital dan globalisasi. (PPID Arpus)
