30 Perwakilan sekolah mengikuti Workshop Tenaga Pengelola Perpustakaan

Posted on

DIARPUS – Kegiatan Workshop Tenaga Pengelola Perpustakaan Tahun 2024 yang berlokasi di hotel Elmadina Asrama Haji Provinsi Gorontalo, di ikuti oleh 30 perwakilan tenaga sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA/SMK dan SLB, Kamis (7/3/2024).

Sebagai narasumber pada kegiatan tersebut adalah satu pemateri internal dinas dan dua pemateri eksternal, yakni pemerhati literasi dengan materi pengelolaan perpustakaan berbasis IT serta dinas pendidikan dan kebudayan provinsi gorontalo dengan materi “pemanfaatan dana bos untuk pengembangan perpustakaan”. Dengan harapan pihak sekolah dapat mengalokasikan dan memanfaatkan dana bos untuk  penambahan koleksi serta pemenuhan sarana dan prasarana lainnya.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinas Ridwan Hemeto. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman konsep pengelolaan perpustakaan bagi tenaga pengelola perpustakaan sehingga mereka dapat mengimplementasikannya di sekolah masing-masing.

“Membantu penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan sekolah agar dapat memiliki kemampuan manajerial dalam mengelola perpustakaan sekolah, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo juga berkomitmen dalam memfasilitasi perpustakaan-perpustakaan sekolah minimal memenuhi standar nasional perpustakaan” lanjut Ridwan Hemeto.

Berbicara tentang perpustakaan, rujukan kita adalah UUD 1945 pada alinea ke empat yakni “Pemerintah memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa,”. Secara spesifik undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, bahwa perpustakaan umum, sekolah, desa/kelurahan, perpustakaan khusus termasuk perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur baik itu tua atau muda kaya atau miskin, tanpa terkecuali termasuk masyarakat yang berkebutuhan khusus mempunyai hak yang sama dalam mengakses dan memanfaatkan perpustakaan dalam rangka peningkatan SDM berkualitas yang bermuara pada perbaikan dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Jika dilihat dari kondisi perpustakaan baik itu Provinsi maupun Kabupaten/Kota termasuk perpustakaan sekolah dan desa/kelurahan paling tidak ada empat hal yang harus diperhatikan, Pertama; tidak meratanya pembangunan perpustakaan di Gorontalo, Kedua; kesenjangan kondisi perpustakaan di Gorontalo (kelembagaan dan sarana prasarana), Ketiga; tidak meratanya kuantitas dan kualitas tenaga pengelola perpustakaan di Gorontalo (SDM), Keempat; masih banyak perpustakaan yang belum memenuhi standar.

Dari keempat hal yang sudah di sebutkan di atas yang paling dominan adalah poin keempat. Kurang lebih 2276 lembaga perpustakan di Provinsi Gorontalo baik itu perpustakan sekolah SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, perpustakaan desa/kelurhan maupun perpustakan khusus baru sekitar 119 perpustakaan yang baru terakreditasi. Sesuai data yang ada, bahwa perpustakaan SD yang sudah diakreditasi sebanyak 18 sekolah, SMP sebanyak 20 sekolah, SMA sederajat 58 sekolah, perpustakaan desa sebanyak 4 desa, perpustakan khusus 3, dan perguruan tinggi sebanyak 8 perguruan tinggi.

Ini menjadi tanggungjawab kita semua, bagaimana perpustakaan menjadi berwibawa dimata masyarakat jika keberadaan perpustakaan kita tidak sesuai standar. Masih banyak perpustakaan yang tidak memiliki bangunan sendiri hanya menumpang di ruang kelas belajar apalagi ketersediaan koleksi buku dan prasarana penunjang lainnya tidak memadai.

“Solusinya adalah perpustakaan hari ini perlu bertransformasi untuk memberikan layanan yang optimal kepada masyarakat” tutup Ridwan Hemeto.

Setelah kegiatan workshop ditutup, panitia bersama peserta didampingi narasumber melanjutkan kegiatan studi tiru pada perpustakaan Eysendring SMA 1 Gorontalo yang merupakan perpustakaan terbaik ke tiga tingkat nasional tahun 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *